Lamongan, arekpantura.com – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, warga Dusun Dondoman, desa bojoasri Kecamatan Kalitengah, kabupaten Lamongan, harus menghadapi banjir tahunan yang semakin parah. Genangan air yang telah berlangsung hampir tiga bulan dengan ketinggian mencapai sekitar dua meter membuat aktivitas warga lumpuh total.
Warga mengaku sebenarnya telah memprediksi bahwa banjir akan semakin besar saat bulan puasa. Berangkat dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, masyarakat pun berinisiatif melakukan persiapan lebih awal dengan membangun jembatan darurat dari bambu.
Jembatan tersebut dibuat secara swadaya melalui iuran warga, sebagai upaya agar akses antar rumah tetap bisa dilalui. Harapannya, meski dalam kondisi banjir, momen Hari Raya Idul Fitri tetap bisa dirasakan, terutama untuk menjaga silaturahmi antar warga.
Meski tampak sederhana dan terbatas, jembatan bambu itu kini menjadi urat nadi aktivitas warga. Jalur tersebut dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari hingga persiapan Lebaran di tengah genangan air yang belum juga surut.
“Banjir ini sudah hampir tiga bulan tidak surut, tingginya sampai sekitar dua meter. Setiap tahun memang banjir, tapi tahun ini paling parah,” ujar Astainu (33), warga Dusun Dondoman, rabu (18/3/26).
“Kami sudah memperkirakan banjir akan besar saat puasa, jadi warga berinisiatif membuat jembatan dari bambu dari hasil iuran supaya tetap bisa lewat dan menjaga momen Lebaran tetap hidup,” tambahnya.
Namun di balik upaya tersebut, warga juga mulai merasakan dampak kesehatan. Air banjir yang kotor menyebabkan banyak warga mengalami gatal-gatal akibat terlalu lama terpapar genangan.
Warga berharap pemerintah segera memberikan solusi nyata terhadap persoalan banjir yang terus berulang setiap tahun. Mereka ingin ke depan bisa menjalani ibadah dan merayakan Idul Fitri dengan lebih layak tanpa harus bergelut dengan banjir yang tak kunjung usai.
