Lamongan, arekpantura.com – Duka belum usai, harapan pun kembali tenggelam. Setelah sempat menunjukkan tanda-tanda surut, banjir yang melumpuhkan sejumlah wilayah di Kabupaten Lamongan, kembali meninggi.
Hujan deras yang terus mengguyur serta meluapnya Bengawan Jero membuat ribuan warga kembali terjebak dalam penderitaan yang seakan tak berujung.
Di Dusun Meluke, Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, air yang sempat turun kini kembali merayap naik, menelan jalan, pekarangan, hingga rumah warga. Aktivitas sehari-hari lumpuh total.
Satu-satunya alat transportasi yang bisa digunakan hanyalah perahu kecil yang hilir-mudik di antara rumah-rumah yang terendam.
BACA JUGA :
“Sebelumnya sudah surut, sekarang naik lagi. Mau ke mana-mana harus pakai perahu,” ujar Istiana, warga setempat, Sabtu (21/2/2026), dengan wajah lelah setelah berbulan-bulan hidup dalam genangan.
Penderitaan warga tak hanya soal banjir yang tak kunjung reda. Bantuan yang datang dinilai jauh dari cukup. Di tengah kondisi ekonomi yang terpuruk, warga merasa seolah berjuang sendirian menghadapi bencana berkepanjangan ini.
Rita Sugiarto, warga Desa Sidomulyo lainnya, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Selama tiga bulan dikepung air, bantuan yang diterima hanya tiga kilogram beras.
Sementara itu, mata pencaharian mereka sebagai petambak hancur total.
BACA JUGA :
“Dapat bantuan cuma tiga kilo beras. Panen gagal semua. Dari tebar benih sampai sekarang nggak dapat apa-apa. Ambyar semuanya,” ucapnya lirih.
Banjir yang telah berlangsung sejak November 2025 ini tak hanya merendam rumah, tetapi juga menenggelamkan harapan warga.
Kerugian ekonomi terus membengkak, sementara kepastian solusi jangka panjang belum juga terlihat.
Mereka mendesak pemerintah daerah hingga pusat untuk segera menghadirkan solusi nyata dan berkelanjutan.
Jika tidak, banjir tahunan ini akan terus menjadi siklus penderitaan datang, merendam, merusak, lalu pergi sementara, hanya untuk kembali lagi menenggelamkan kehidupan mereka di tahun berikutnya.
