Warga Lamongan Bongkar Makam Palsu yang Diklaim Keramat

Makam palsu yang dibongkar warga

Lamongan, arekpantura.com – Puluhan warga Dusun Rangkah, Desa Ngujungrejo, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan sontak geger setelah membongkar sebuah makam palsu yang berdiri mencolok di area pemakaman setempat, Kamis (20/11/2025).

Bangunan yang menyerupai rumah berukuran 6×6 meter itu selama dua tahun terakhir disebut-sebut sebagai makam keramat oleh kelompok kecil di dusun tersebut.

Camat Turi, Rahmad Hidayat, menjelaskan bahwa pembongkaran ini merupakan tindak lanjut dari surat Sekretaris Daerah Lamongan bernomor 451/556/413.012/2024 tentang pengembalian fungsi makam.

Menurutnya, proses menuju pembongkaran tidaklah mudah. “Masalah ini sudah berlangsung dua tahun. Pelik sekali. Kami baru bisa mengeksekusi setelah ada koordinasi matang dengan pihak desa dan dusun,” ujar Rahmad saat berada di lokasi Kamis (20/11/2025).

Warga melakukan aksi pembongkaran dengan palu dan alat seadanya, dan berhasil merobohkan atap genting bangunan.

Suasana sempat hening ketika sebuah kotak amal ditemukan menempel pada bagian atas bangunan itumenambah kecurigaan warga bahwa makam tersebut sengaja dijadikan alat mencari keuntungan.

“Sebanyak 10 warga yang sejak awal menolak keberadaan makam palsu itu menjadi garda terdepan dalam proses pembongkaran,” ujar Rahmad.

Camat Turi menambahkan, kerumunan warga menyebut bahwa mereka adalah pihak yang sejak awal kontra terhadap keberadaan bangunan tersebut.

“Pemerintah kecamatan menegaskan bahwa kawasan pemakaman akan segera dikembalikan seperti semula, tanpa bangunan mencurigakan yang berpotensi memancing praktik penyimpangan,” pungkasnya.

Sementara itu, Mahmudi, warga Dusun Ngujung, mengungkapkan bahwa makam tersebut dibangun oleh kelompok kecil beranggotakan sekitar 20 orang yang menamakan diri “Jamaah Yasinan dan Tahlil.”

Mereka mendirikan bangunan itu dua tahun lalu, lengkap dengan tiga nama tokoh yang konon dimakamkan di dalamnya: Syekh Abdurrahman bin Abdurrahim, Resi Pranoto Wijaya, dan Nyi Mas Tanjung Sari.

“Tiga nama itu asing bagi kami. Tidak ada catatan sejarah atau cerita turun-temurun tentang tokoh-tokoh itu di sini,” ungkap Mahmudi.

Ia juga bersyukur pembongkaran berjalan tanpa perlawanan dari pihak yang membangun.

Meski situasi berlangsung kondusif, aparat kepolisian dan petugas Satpol PP tetap berjaga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pembongkaran makam palsu ini menjadi puncak keresahan warga yang merasa area pemakaman berubah fungsi dan disusupi praktik yang dianggap menyesatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *