Lamongan, arekpantura.com – Hampir dua pekan terakhir, nelayan di wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Lamongan tidak dapat beraktivitas secara maksimal. Kondisi tersebut disebabkan oleh cuaca ekstrem yang masih melanda kawasan pesisir sejak Januari 2026 hingga saat ini.
Curah hujan yang tinggi disertai angin laut kencang dengan kecepatan diperkirakan mencapai 20–22 knot, serta gelombang laut setinggi 2,5 hingga 3 meter, membuat aktivitas melaut menjadi sangat berisiko. Kondisi ini memaksa sebagian besar nelayan untuk menghentikan sementara aktivitas penangkapan ikan.
Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Lamongan, Murod, menjelaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem tersebut merupakan kondisi tahunan yang biasa terjadi di wilayah Pantura Lamongan. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai musim baratan, yakni musim dengan intensitas hujan tinggi, disertai petir, angin laut yang sangat kencang, serta gelombang besar yang bahkan dapat meluber hingga ke daratan.
“Pada musim baratan seperti ini, banyak nelayan yang tidak bisa melaut karena khawatir akan keselamatan mereka. Risiko kapal tenggelam akibat gelombang tinggi sangat besar,” ujar Murod, kamis (15/1/26).
Dampak dari kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh nelayan, tetapi juga melumpuhkan roda perekonomian masyarakat pesisir. Banyak nelayan terpaksa mencari pekerjaan serabutan demi memenuhi kebutuhan hidup dan menghidupi keluarga. Meski demikian, tidak sedikit pula nelayan yang tetap nekat melaut karena melaut merupakan satu-satunya mata pencaharian yang mereka miliki, meskipun harus mempertaruhkan keselamatan jiwa.
“Kehidupan nelayan sangat bergantung pada kondisi cuaca di laut,” tambahnya.
Menurut perkiraan, cuaca ekstrem musim baratan ini dapat berlangsung hingga tiga bulan ke depan. Selama periode tersebut, sebagian besar nelayan diperkirakan akan menghentikan aktivitas melaut hingga kondisi laut kembali normal dan aman.
Sementara itu, Ketua HNSI Kabupaten Lamongan, H. Sukri, mengimbau kepada seluruh nelayan agar tetap bersabar dan meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi musim baratan. Ia menegaskan pentingnya keselamatan sebagai prioritas utama.
“Bagi nelayan yang terpaksa melaut, kami mengingatkan agar selalu melengkapi kapal dengan alat keselamatan seperti ban pelampung, jaket pelampung, dan perlengkapan keselamatan lainnya. Hal ini sangat penting untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, seperti kapal rusak atau tenggelam akibat hantaman ombak,” tegas H. Sukri.
Ia berharap para nelayan dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan, demi keselamatan diri dan keluarga di tengah kondisi cuaca yang masih tidak menentu.
