Usai Banjir Surut, 7 Jenazah Dipindah ke Makam Umum

Proses pemindahan 7 jenazah ke Makam Umum usai banjir surut

Lamongan, arekpantura.com – Tujuh jenazah warga Dusun Kudu, Desa Weduni, Kecamatan Deket, yang selama berbulan-bulan dimakamkan di tempat penampungan sementara akhirnya dipindahkan ke pemakaman umum dusun. Pemindahan dilakukan setelah kondisi makam umum yang sebelumnya terendam banjir mulai mengering.

Proses pemindahan berlangsung secara gotong royong pada Minggu (20/9/2026). Warga membongkar satu per satu peti jenazah yang sebelumnya ditanam di tempat penampungan sementara.

Kepala Dusun Kudu, Nasim Hadi mengatakan, tujuh jenazah yang dipindahkan tersebut masing-masing bernama Sulana, Poernomo, Kastona, Tasripan, Hj Tri, Koning, dan Diro. Mereka merupakan warga setempat yang meninggal dalam beberapa bulan terakhir, sebagian karena faktor usia dan penyakit. “Ketika meninggal, makam umum dusun masih terendam banjir sehingga tidak memungkinkan untuk digunakan,” kata Nasim.

Menurut Nasim, genangan di area pemakaman saat itu cukup parah. Air bahkan mencapai kedalaman lebih dari satu meter. Kondisi tersebut membuat warga harus mencari solusi agar jenazah tetap bisa dimakamkan dengan layak.

Akhirnya, warga menggunakan sebuah tempat penampungan sebagai lokasi pemakaman sementara. Cara tersebut sudah dilakukan warga Dusun Kudu selama beberapa tahun terakhir setiap kali pemakaman umum tidak dapat digunakan akibat banjir. “Kalau makam umum sudah kering dan memungkinkan, jenazah kemudian dipindahkan ke makam dusun. Pemindahannya dilakukan bersama-sama oleh warga,” ujarnya.

Proses pemindahan tujuh jenazah itu dilakukan secara sederhana. Warga terlebih dahulu membongkar timbunan pasir menggunakan cangkul hingga peti jenazah terlihat.

Setelah peti berhasil dikeluarkan, empat orang warga kemudian mengangkat dan memikulnya menggunakan tali. Jarak antara lokasi penampungan dengan pemakaman umum dusun tidak terlalu jauh. Ketujuh jenazah tersebut selanjutnya dimakamkan dalam satu lubang di pemakaman umum dusun.

Salah seorang warga yang ikut dalam proses pemindahan, Hariyanto menjelaskan, tempat penampungan tersebut memang dibuat dengan cara berbeda dari makam pada umumnya. Karena lahannya terbatas, peti jenazah ditata secara vertikal atau ditumpuk ke atas. “Kalau ada warga meninggal, petinya ditumpuk ke atas, bukan menyamping. Dalam satu baris bisa ada dua sampai lima peti,” jelas Hariyanto.

Menurut dia, timbunan peti juga menggunakan pasir, bukan tanah liat. Penggunaan pasir membuat proses pembongkaran relatif lebih mudah ketika jenazah harus dipindahkan. “Kalau menggunakan pasir, bongkarnya tidak repot. Cukup menggunakan cangkul dan sekop,” katanya.

Meski telah berbulan-bulan berada di tempat penampungan sementara, kondisi jenazah saat dipindahkan tidak menimbulkan bau. Warga menyebut hal itu karena bagian atas peti telah dilapisi plastik sebelum kemudian ditimbun pasir.

Kini, setelah banjir surut dan pemakaman umum kembali dapat digunakan, tujuh jenazah warga Dusun Kudu telah kembali dimakamkan di pemakaman umum dusun. Proses pemindahan yang dilakukan secara gotong royong menjadi bagian dari tradisi warga dalam menghadapi persoalan pemakaman ketika wilayah mereka dilanda banjir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *