Lamongan, arekpantura.com – Bengawan Mati di Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, kembali gempar. Bukan hanya karena arus sungai, tetapi juga riuh sorak masyarakat yang menyaksikan adu kecepatan para pedayung dalam Festival Dayung Tejoasri, Minggu (9/8/2026).
Memasuki penyelenggaraan tahun keempat, festival yang rutin mempertemukan para pedayung dari berbagai daerah di Jawa Timur tersebut mulai mendapat perhatian lebih luas. Bahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuka peluang agar Festival Dayung Tejoasri dapat masuk dalam agenda tahunan tingkat provinsi.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jawa Timur, Muhammad Hadi Wawan Guntoro, menilai festival yang digagas Pemerintah Desa Tejoasri bersama Pemerintah Kabupaten Lamongan tersebut memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Menurutnya, Festival Dayung Tejoasri bukan sekadar perlombaan olahraga. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menghidupkan kembali olahraga tradisional sekaligus menciptakan daya tarik baru bagi masyarakat.
“Inisiatif Pemerintah Desa Tejoasri bersama Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam menggelar festival ini patut diapresiasi,” ujar Hadi.
BACA JUGA :
Ia mendorong seluruh pihak, termasuk media massa, ikut mengambil peran dalam memperkenalkan Festival Dayung Tejoasri agar gaungnya semakin luas. Dengan semakin dikenalnya festival tersebut, peluang kolaborasi dari berbagai pihak juga dinilai akan semakin terbuka.
Namun, Hadi mengingatkan bahwa pengembangan festival perlu dibarengi dengan standar penyelenggaraan yang jelas. Langkah tersebut penting agar Festival Dayung Tejoasri tidak hanya menjadi olahraga yang tumbuh secara swadaya dari masyarakat, tetapi juga dapat diarahkan menjadi bagian dari pembinaan prestasi.
“Nantinya perlu ada standar penyelenggaraan yang jelas. Dengan begitu, festival ini tidak hanya menjadi olahraga yang tumbuh dari masyarakat, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap pembinaan prestasi,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi. Ia melihat tingginya partisipasi masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama Festival Dayung Tejoasri.
Menurut Yuhronur, perjalanan festival selama empat tahun menunjukkan adanya perkembangan dari waktu ke waktu. Pembenahan tidak hanya terlihat dari sisi penyelenggaraan dan penampilan, tetapi juga kualitas pertandingan serta kemampuan para peserta.
“Dari setiap tahun festival ini ada sesuatu yang baru dan diperbaiki, baik dari sisi penampilan maupun kualitas pertandingan yang semakin baik. Antusiasme masyarakat sangat tinggi karena hari ini adalah Festival Dayung yang keempat,” kata Yuhronur.
Tingginya antusiasme tersebut menjadi modal penting bagi Festival Dayung Tejoasri untuk terus berkembang. Apalagi, keberadaan festival turut memperkenalkan potensi Desa Tejoasri sekaligus menjadikan kawasan Bengawan Mati sebagai ruang aktivitas olahraga dan hiburan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Desa Tejoasri, Yusuf Bachtiar, menyambut positif wacana Festival Dayung Tejoasri mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Ia menegaskan Pemerintah Desa Tejoasri terbuka apabila festival yang kini memasuki tahun keempat tersebut nantinya ditetapkan sebagai salah satu agenda tahunan tingkat provinsi.
“Kita selalu terbuka. Misalkan Pemprov melirik Desa Tejoasri untuk dijadikan agenda tahunan, Desa Tejoasri menyambut baik agenda itu,” ujar Yusuf.
Menurutnya, apabila wacana tersebut benar-benar terealisasi, Pemerintah Desa Tejoasri siap mengikuti berbagai arahan dan ketentuan yang ditetapkan Pemprov Jatim.
“Terkait hal-hal lain nanti mungkin kita mengikuti apa yang menjadi petunjuk Pemprov Jatim,” imbuhnya.
