Penjualan Hewan Kurban di Lamongan Merosot, Pedagang Keluhkan Dampak Gagal Panen

Peternak kambing saat memberikan makan ternaknya



Lamongan, arekpantura.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha yang tinggal satu minggu lagi, hiruk-pikuk perdagangan hewan kurban di Lamongan justru tampak lesu. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, para pedagang tahun ini mengeluhkan penurunan omzet penjualan yang cukup signifikan, bahkan mencapai 50 persen.

Lesunya pasar hewan kurban, khususnya kambing, diduga kuat dipicu oleh kondisi ekonomi masyarakat yang tertekan akibat gagal panen yang melanda para petani di wilayah setempat.

Jika pada tahun lalu, sepekan sebelum hari raya, stok hewan kurban milik pedagang sudah terjual lebih dari 70 persen, kini kondisinya berbanding terbalik. Para pedagang mengaku kesulitan mencapai angka penjualan 50 persen dari total stok yang tersedia.

Sulistiono, salah seorang pedagang hewan kurban di Desa Tambak Ploso, Kecamatan Turi, mengakui bahwa situasi tahun ini sangat berat baginya dan para pedagang lain.

BACA JUGA :

“Penjualan tahun ini mengalami penurunan hingga 50 persen dibandingkan tahun lalu. Banyak warga yang biasanya membeli kambing, kini menahan diri karena hasil panen yang tidak maksimal,” ujar Sulistiono saat ditemui di lokasi penjualan, kamis (21/5/26).

Selain faktor gagal panen, Sulistiono juga menyoroti perubahan pola perilaku masyarakat dalam berkurban.
Saat ini, banyak warga yang lebih memilih untuk berkurban sapi dengan sistem patungan atau berkelompok daripada membeli kambing secara perorangan.

“Warga saat ini lebih memilih untuk patungan membeli sapi. Ini membuat permintaan terhadap kambing menurun drastis karena daya beli masyarakat yang terbagi,” tambahnya.

Kondisi ekonomi masyarakat semakin tertekan karena momentum Idul Adha tahun ini berbarengan dengan dimulainya musim tanam atau masa penebaran benih padi.

BACA JUGA :

Sulistiono mengungkapkan bahwa beban pengeluaran warga untuk modal tanam menjadi prioritas utama, sehingga alokasi dana untuk berkurban terpaksa dikurangi atau ditunda.

“Hari raya kurban tahun ini bersamaan dengan petani yang mulai menebar benih di sawah. Tentu ini sangat berpengaruh besar terhadap daya beli warga untuk kurban,” pungkasnya.

Para pedagang berharap masih ada peningkatan permintaan pada hari-hari terakhir menjelang hari raya, meski mereka tetap realistis dengan kondisi ekonomi di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *