Warga Lamongan Sulap Rooftop Jadi Cuan Lewat Budidaya Melon Fertigasi Tetes

Iskandar tengah merawat tanaman melon

Lamongan, arekpantura.com – Keterbatasan lahan di area perkotaan kini bukan lagi alasan untuk absen dari sektor pertanian. Sebuah inovasi kreatif ditunjukkan oleh Iskandar, warga Desa Deketkulon, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan. Ia sukses menyulap atap rumah atau rooftop yang kosong menjadi kebun melon hidroponik yang subur sekaligus mendatangkan omset jutaan rupiah.

Langkah ini berawal dari kejelian Iskandar melihat potensi area atas rumahnya yang mangkrak. Di atas lahan terbuka seluas 13 x 8 meter persegi tersebut, ia mencoba peruntungan dengan mengaplikasikan sistem pertanian urban (urban farming).

“Kebetulan kami punya rooftop yang kosong dan belum ada rencana membangun rumah ke atas. Jadi saya manfaatkan ruang ini untuk menanam melon,” ujar Iskandar saat ditemui di kebun atapnya, Senin (22/6/2026).

Untuk menyiasati keterbatasan tempat dan media tanam di atas gedung, Iskandar mengandalkan teknologi hidroponik dengan sistemfertigasi tetes (drip irrigation). Sistem pengairan modern ini memungkinkannya mengalirkan air sekaligus nutrisi secara presisi langsung ke akar tanaman melalui selang drip.

Menariknya, keahlian merakit sistem irigasi modern ini tidak didapatkan Iskandar dari bangku sekolah formal, melainkan secara autodidak.

“Sistem penyiramannya kami pakai selang drip dan fertigasi tetes. Kalau teknologi dan cara implementasinya ini, saya belajar mandiri dari YouTube,” ungkapnya.

Budidaya di area terbuka (open field) di atas rooftop tentu memiliki tantangan tersendiri dibandingkan dengan greenhouse. Pada musim tanam pertama, cuaca ekstrem dan hama sempat membuat hasil panen jenis melon premium kurang optimal, meski ia tetap mengantongi omset Rp 3 juta.

BACA JUGA :

Belajar dari evaluasi tersebut, pada musim tanam kedua ini Iskandar beralih ke varietas melon lokal seperti Gracia, New Cheria, dan Nobel yang dinilai jauh lebih adaptif dengan iklim rooftop. Selain lebih tangguh, masa panen melon lokal ini relatif singkat, yakni berkisar antara 60 hingga 65 hari.

“Kemarin itu (saat kondisi optimal) kita bisa dapat hingga 2,5 kuintal. Tapi kalau musim hujan, kondisi di rooftop ini memang kurang bersahabat, terutama untuk melon premium. Tantangan utamanya memang curah hujan tinggi,” jelas Iskandar.

Meski begitu, dengan mitigasi pemilihan varietas lokal yang tepat pada musim ini, Iskandar optimistis target omsetnya melonjak hingga Rp 7 juta rupiah.

Bagi Iskandar, naik-turun tangga merawat tanaman melon setiap pagi di atas rumah bukan sekadar urusan meraup cuan atau mendukung ketahanan pangan mandiri. Aktivitas ini juga menjadi sarana investasi kesehatan menjelang masa pensiun.

“Sembari menanam melon ya sembari olahraga. Kalau pagi di sini enak sekali, hawanya segar,” tambahnya.

Melalui keberhasilan Perdana Farm di atas atap ini, Iskandar berharap bisa menularkan energi positif kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda di perkotaan, agar tidak ragu memanfaatkan lahan sekecil apa pun untuk produktivitas pertanian modern.

Ia berharap apa yang dilakukannya di atas rooftop ini dapat menularkan energi positif dan menjadi pemantik kreativitas bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda yang ingin terjun ke dunia pertanian urban (urban farming).

“Harapannya ini bisa menginspirasi yang lain, terutama kawula muda agar tetap bersemangat dan punya inovasi baru untuk memanfaatkan lahan seadanya untuk menanam,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *