Pasuruan, arekpantura.com – Kota Pasuruan di masa Hindia Belanda jelas berbeda dengan masa kini. Pada masa itu, banyak pribumi yang menjadi pelayan bagi bangsa Eropa. Akses jalan, air minum hingga penerangan listrik juga belum merata seperti saat ini.
Kondisi Kota Pasuruan pada masa Hindia Belanda bisa diketahui dari Tulisan Henry Morbeck, warga keturunan Jerman yang pernah tinggal di Kota Pasuruan selama 66 tahun. Puluhan tahun ia mengelola hotel Marine (hotel Morbeck) di Kota Santri tersebut.

Hotel Marine tempo dulu yang kini menjadi Kantor DPRD Kota Pasuruan
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menuturkan Kota Pasuruan dalam ingatan Henry Morbeck ini sempat ditulis dalam koran terbitan Belanda, De Indische Courant pada 1932.
BACA JUGA :
Ia lahir dan besar di Kota Pasuruan. Ayahnya adalah mantan perwira angkatan laut Jerman. Setelah pensiun, ayahnya mengoperasikan rumah pemulihan di Tosari, Kabupaten Pasuruan. Sekarang dikenal sebagai Grand Hotel Tosari. Juga menjadi penyewa Hotel Marine yang legendaris. Saat Morbeck lahir, Marine Hotel itu sudah berumur 100 tahun.
“Hotel Marine ini yang dikenal menjadi Hotel Morbeck. Kelak hotel ini dibeli oleh Pemkot Pasuruan dan kini menjadi gedung DPRD Kota Pasuruan,” kata Budiman.

Kantor DPRD Kota Pasuruan saat ini
Sebagai kota pelabuhan utama di Hindia saat itu, hotel tersebut sangat sibuk. Sering dikunjungi kapten dan awak kapal yang berlabuh di sana. Morbeck sendiri memulai karir di bidang perkebunan. Sebagai karyawan pabrik gula yang berlokasi di Kraton, Kabupaten Pasuruan, yang dikelola oleh perusahaan Fraser Eaton and Co.
Pabrik gula tersebut bekerja sama dengan perkebunan pemerintah dan tidak bertahan lama.
Pada masa itu, masih masa kejayaan tanam paksa kopi. Aliran uang mengalir melalui Pasuruan, karena semua kopi disimpan di gudang-gudang pemerintah yang ada di Pasuruan.
Dari penuturan Henry Morbeck, diketahui pernah terjadi epidemi kolera pada 1895. Kota Pasuruan dilanda kolera. Penyakit mematikan ini memakan ratusan korban. Orang pertama yang meninggal karena kolera adalah lima anggota keluarga Otto Carl. Yang pada saat itu tinggal di lahan heerenstraat, yang merujuk pada kawasan elit saat itu. Yakni di Jalan Balaikota dan Pahlawan.
BACA JUGA :
Kondisi Kota Pasuruan sangat mencekam saat itu. Lima anggota keluarga ini meninggal dalam sehari. Pemerintah saat itu menutup semua pintu masuk ke Kali Gembong, untuk mencegah pengambilan air minum dari tempat ini. Tidak ada persediaan air minum saat itu.
“Pemerintah Hindia mewajibkan siapa pun yang tidak memiliki sumur di lahan miliknya wajib meminum air kali yang dimurnikan dengan batu,” ungkap Budiman.
BACA JUGA :
Morbeck menyebutkan pada 1891, ia mengambil alih Hotel Marine dari ayahnya. Karena hotel tersebut disewa oleh ayahnya dari seorang kapten laut, ia pun membelinya. Hotel ini lantas menjadi milik Morbeck selama 40 tahun dan sempat mengalami perluasan beberapa kali. Bahkan paviliun juga digunakan.
Pada 1928, ia menerima tawaran harga yang layak dari Pemkot Pasuruan. Karena tidak ada penerus, ia memutuskan untuk menjual hotel tersebut. Apalagi, Ia dan istrinya memiliki cukup banyak kesibukan. Sejak 1899, ia menjadi seorang agen di pabrik gula “gayam”.

Suasana pelabuhan tempo dulu. Tampak kantor Syahbandar
Selama bertahun-tahun ia melihat Kota Pasuruan berkembang. Dari kota kuno menjadi kota modern. Penerangan listrik, pipa air minum, jalan beraspal, taman olahraga, dan lapangan tenis dibangun.
Sebelumnya, banyak orang pribumi menjadi pelayan bagi bangsawan Eropa membawakan lentera di malam hari.
“Dalam ingatan Morbeck tak jarang orang biasa diantar oleh pelayannya menggunakan lentera. Residen selalu diikuti pelayan kemanapun pergi,” jelas Budiman.
Di tahun 1893, sempat terjadi kebakaran hebat di Kelurahan Bangilan, Kecamatan Panggungrejo. Kebakaran tersebut menghanguskan seluruh bagian kota di kelurahan ini hancur. Di tahun yang sama, Morbeck mengikuti pameran pertanian besar besaran di klub lama yang diselenggarakan oleh residen Salmon.
Dalam tulisan Morbeck diketahui jika Raja Siam (sekarang Thailand), King Rama V pernah berkunjung ke wisata Gunung Bromo pada 1896. Ia melakukan perjalanan ke Gunung Bromo melalui Tosari. Menjadi orang pertama yang diangkut dengan as roda dari Pasuruan ke Tosari dengan menggunakan kereta bertenda.
“Ia adalah pengunjung pertama yang mencapai tenda lautan pasir dengan kendaraan beroda pada 1896. Perjalanan melihat indahnya Gunung Bromo tidak lengkap jika belum turun ke lautan pasir,” jelas Budiman.
Sebelumnya, harus dibutuhkan beberapa kuda pos dan membuat mereka kesulitan untuk mendorongnya. Perjalanan dengan kereta yang rumit untuk mendaki lereng yang curam. Lalu lintas Tosari pada masa itu, berbeda dengan sekarang.
Mulai pukul 10.00, tidak diizinkan untuk lewat dari arah Tosari hingga Pasrepan untuk mencegah kecelakaan. Lalu pada tahun 1910, pangeran Macklenburg (Johan Albert Van Macklenburg), wali adipati asal Jerman tiba ke Bromo.
Jauh hari sebelumnya, Dinas PU telah bekerja keras membangun tangga batu sampai ke mulut kawah. Kunjungan tersebut menandai bahwa Bromo sudah dikenal oleh kalangan elit Eropa sejak zaman kolonial.
Jalur ke lokasi Gunung Bromo sudah dirintis oleh keluarga Morbeck. Bahkan, agen yang dimilikinya bisa dibilang sebagai agen tour and travel pertama ke Bromo. Ia mempromosikan wisata Bromo sampai ke Inggris hingga Amerika. Dan Dia jugalah yang menyediakan transportasi dan akomodasi.
Kota Pasuruan masa kini terus berbenah. Tidak hanya menjadi kota yang lebih modern, Kota Pasuruan juga menjadi kota yang ramah bagi wisatawan. Banyak destinasi yang bisa dikunjungi. Mulai dari kawasan Madinah di seputar alun-alun kota hingga kawasan Makkah di Krampyangan yang masih berproses.
