Lamongan, arekpantura.com – Pendakwah kondang KH Ahmad Muwafiq, atau yang akrab disapa Gus Muwafiq, menekankan pentingnya menjaga kemandirian bangsa dan merawat tradisi lokal sebagai fondasi kekuatan ukhuwah Nahdliyah. Hal tersebut disampaikan dalam acara Halal Bihalal dan Kupatan yang diselenggarakan oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Dadapan di Aula LP Ma’arif Dadapan, Minggu (29/3/26).
Acara yang mengusung tema “Menebar Maaf, Menyambung Rasa, Memperkuat Ukhuwah Nahdliyah” tersebut dihadiri oleh ratusan nahdliyin dari wilayah setempat.
Dalam sambutannya, Gus Muwafiq menyoroti realitas politik dan ekonomi internasional yang kini saling berkelindan. Ia menjelaskan bahwa posisi Indonesia di mata dunia tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan sistemik, mulai dari transaksi saham di bursa Singapura hingga pasokan bahan baku industri dari negara-negara besar seperti Tiongkok dan Jepang.
“Dunia hari ini terhubung. Jika kita terlalu keras bersikap tanpa kemandirian, dampaknya langsung terasa pada nilai dolar dan ekonomi kita. Berbeda dengan era Bung Karno yang masih bisa berdikari, saat ini tantangannya jauh lebih kompleks,” ujar Gus Muwafiq.
BACA JUGA :
Beliau mencontohkan bagaimana sektor industri nasional, seperti pabrik konveksi hingga pabrik ban, sangat bergantung pada impor komponen dari luar negeri. Bahkan, sektor kesehatan pun tak luput dari ketergantungan alat medis dan bahan baku farmasi asing.
Gus Muwafiq juga menyoroti mulai lunturnya pengetahuan tradisional atau local wisdom di kalangan generasi muda. Ia membandingkan ketangguhan generasi terdahulu yang memiliki alternatif pengobatan herbal dengan generasi sekarang yang sangat bergantung pada obat-obatan kimia pabrikan.
“Orang tua dulu kalau sakit perut masih tahu godong jambu atau simbukan. Anak muda sekarang, kalau obat dari luar negeri diembargo, mereka tidak tahu lagi harus mencari obat ke mana. Kita sudah banyak meninggalkan penelitian terhadap kekayaan alam kita sendiri,” kritiknya.
Lebih lanjut, kiai berambut gondrong tersebut mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran dari sejarah ketangguhan bangsa lain dan kelompok agama lain dalam bertahan hidup di bawah tekanan. Ia menyebut Iran sebagai contoh negara yang mampu mandiri secara teknologi nuklir dan atom karena terbiasa menghadapi isolasi dunia.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mandiri. Kita di Indonesia, khususnya warga NU, saat ini hidup di zona yang sangat nyaman. Namun, kenyamanan ini jangan sampai membuat kita lemah dan kehilangan jati diri,” tambahnya.
Menutup tausiyahnya, Gus Muwafiq mengajak seluruh pengurus dan warga NU Dadapan untuk menjadikan momentum Halal Bihalal ini sebagai ajang memperkuat persatuan. Dengan semangat ukhuwah Nahdliyah, warga diharapkan tidak hanya kuat secara jamaah, tetapi juga mulai membangun kemandirian di berbagai lini kehidupan.
Acara Halal Bihalal dan Kupatan tersebut berlangsung khidmat dan ditutup dengan doa bersama serta ramah tamah menyantap hidangan khas kupatan sebagai simbol kebersamaan dan saling memaafkan.
