Pesan Terakhir Pendaki Piramid Bondowoso Maliya Finda pada Sang Ibu

Jenazah Hj. Maliya Finda saat tiba di rumah duka

Lamongan, arekpantura.com – Kecintaan Hj. Maliya Finda (51) terhadap alam dan pegunungan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun, pendakian terakhirnya di Gunung Piramid, Bondowoso, justru menjadi perjalanan yang mengantarkannya kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Suasana haru menyelimuti rumah duka di Kelurahan Banaran, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Kamis (6/8/2026). Sejak pagi, ratusan pelayat memadati kediaman almarhumah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pendaki yang dikenal ramah dan memiliki semangat tinggi menjelajahi alam.

Jenazah Maliya tiba di rumah duka sekitar pukul 07.00 WIB setelah dievakuasi dari Gunung Piramid. Tangis keluarga dan kerabat pecah saat prosesi salat jenazah dan tahlil berlangsung. Duka mendalam begitu terasa mengiringi kepergian perempuan yang selama bertahun-tahun telah menaklukkan puluhan gunung di berbagai daerah.

Usai disalatkan, jenazah diberangkatkan menuju pemakaman keluarga di Desa Karangkembang, Kecamatan Babat. Iring-iringan pelayat mengantar almarhumah ke peristirahatan terakhir dalam suasana penuh doa dan isak tangis.

Di balik kegemarannya mendaki, tersimpan kisah haru yang kini menjadi kenangan terakhir bagi keluarga. Paman almarhumah, Naim Mahzumi, menceritakan bahwa Maliya merupakan sosok yang sangat mencintai alam. Selain mendaki gunung, ia juga gemar bersepeda dan telah menjelajahi banyak puncak di Indonesia. “Almarhumah memang sangat mencintai alam. Dulu setiap hendak mendaki selalu meminta izin kepada ibunya. Namun setiap kali diminta izin, ibunya selalu menangis seolah berat melepas kepergiannya. Karena itu, beberapa pendakian berikutnya dilakukan tanpa memberi tahu sang ibu,” tutur Naim. Kamis (6/8/2026).

Takdir rupanya telah menuliskan cerita berbeda pada pendakian kali ini. Sebelum berangkat menuju Gunung Piramid, Maliya sempat menemui sang ibu yang sedang berada di Bali untuk meminta izin dan restu. “Ternyata itu menjadi izin dan restu yang terakhir,” ucap Naim dengan suara bergetar.

Perjalanan terakhir Maliya dimulai pada Minggu (2/8/2026). Ia mendaki Gunung Piramid bersama seorang pemandu lokal asal Bondowoso. Namun hingga Selasa (4/8/2026) pagi, keduanya tidak kunjung turun dari jalur pendakian dan dinyatakan hilang.

Kabar hilangnya Maliya pertama kali diterima keluarga melalui komunitas pendaki. Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian, meski sempat terkendala cuaca buruk yang menyulitkan proses evakuasi di kawasan pegunungan.

Setelah pencarian intensif, pada Rabu (5/8/2026), Tim SAR akhirnya menemukan Maliya Finda dalam kondisi meninggal dunia. Kepergiannya menyisakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga sahabat dan komunitas pecinta alam yang mengenalnya sebagai sosok sederhana, tangguh, dan selalu membawa semangat dalam setiap perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *